Langsung ke konten utama

My first




 BAB I 

Salam Kenal !


“Cie… Dea kemarin janjian sama Adi hlo nggak masuk sekolah.. hahaha”
                Suara gaduh semakin riuh melintasi sepanjang koridor kelas 3B. Dua anak berseragam putih merah itu nampak tersudut oleh cercaan teman-temannya. Si perempuan terlihat tak sanggup lagi menahan rasa malunya hingga beberapa detik kemudian, air mata berderai membasahi pipinya yang nampak kemerahan. Si laki-laki hanya bisa menggigit bibir sembari menatap si perempuan dengan tatapan penuh rasa bersalah.
 
 *****

                “De, deaa… lu dengerin gue nggak sih?
                “Duh, sori ta, gue masih ngantuk. Semalem gue mimpi Adi lagi. Udah 8 tahun gue nggak ketemu dia. Hemh, kayak apa ya dia sekarang? Kira-kira masih inget nggak ya dia sama gue Ta?”
                “Dea dea, bangun neng! kisah cinta lu tuh nggak kayak di ftv. Lupain ajalah cinta monyetmu itu. Lagian mana ada sih, anak SD udah bisa merasakan yang namanya cinta?”
                “Huh, dasar lu tuh ya Titaaa, sahabat nggak ngasih support malaahhh….”
                Dia  Tita, sahabat SMAku. Meskipun kami baru kenal 2 tahun terakhir, tapi nggak tau kenapa aku sudah merasa cocok aja dengan dia, rasanya seperti sudah kenal lama. Dua bulan yang lalu aku resmi melepas masa putih abu-abuku. Usiaku sekarang 17 tahun lebih 5 bulan. Akhir pekan ini ku habiskan dengan menikmati hawa-hawa rumah, karena sebentar lagi aku harus melanjutkan kuliahku di Jogja. Bagiku, aku lebih beruntung di banding teman-temanku yang lain. Di saat yang lain tengah berjuang keras untuk medapatkan kursi di perguruan tinggi, aku sudah bisa duduk manis dan bersantai di rumah karena sudah diterima di Universitas terbaik di Indonesia.
                Semalam aku bermimpi tentang Adi, teman kecilku. Delapan tahun sudah kami tidak bertemu, tak ada kabar. Seperti apa dia sekarang?                              
                        
*****

                Hari itu cuaca nampak cerah. Langit biru dengan gumulan awan putih membumbung tinggi memenuhi angkasa. Mentari tersenyum riang memberikan sinar hangatnya, sama seperti senyum anak-anak SD N 1 Kartini menyambut awal tahun ajaran baru. Nampak dua barisan rapih di depan masing-masing kelas, dari kelas satu hingga kelas enam. Dua barisan, dengan barisan anak laki-laki di sebelah kanan, dan barisan anak perempuan di sebelah kiri. Wali kelas baru telah berdiri di depan pintu menanti anak didik barunya memberi salam. Di depan kelas 3B, ibu wali kelas bediri ditemani seorang anak laki-laki berkulit putih dengan alis tebal dan sedikit lebih tinggi di bandingkan anak-anak yang lain di depannya.
                “Anak-anak, selamat datang di kelas 3B. Perkenalkan nama ibu, Tantri Susanti. Mulai hari ini sampai satu tahun ke depan ibu akan menjadi wali kelas kalian. Biar lebih akrab panggil saja bu Susan”, kata wanita yang berumur sekitar 30 tahunan itu sangat ramah.
                “oiya, di samping ibu ini nantinya akan menjadi teman kalian. Ayo Adi, perkenalkan diri kamu ke teman-teman barumu”, seru bu guru kepada anak laki-laki yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Anak itupun mengangguk mengiyakan.
                “Selamat pagi teman-teman. Perkenalkan nama saya Muhamad Pradipta Prasetya. Teman-teman bisa memanggil saya Adi. Saya pindahan dari Jambi. Sekarang saya tinggal di Karangsari, Kota Barat, kapan-kapan kalau teman-teman mau main boleh kok”, anak itu memperkenalkan dirinya dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih, tidak seperti kami yang cenderung medhok karena faktor bahasa ke daerahan. “Saya anak kedua dari tiga bersaudara, kakak perempuan saya sekarang kelas empat dan adik perempuan saya baru masuk kelas satu. Keduanya juga sama-sama bersekolah di sini”, tambahnya yang kini diikuti wajah yang lebih rileks di bandingkan 10 menit yang lalu.
                “Baiklah, cukup Adi”,kata bu Susan memberi isyarat pada Adi. “Ayo sekarang kalian baris lagi yang rapi, lalu masuk satu-persatu dan beri salam pada Adi, buat dia betah di sini. Dan Adi, kamu duduk bersebelahan sama Dody ya”perintah bu Susan dengan penuh senyum.
                “Baik bu.”
                Kamipun memasuki kelas baru satu-persatu seperti instruksi bu Susan. Aku menuju bangku nomor 3, dimana tasku sudah menanti di sana sejak tadi.
                “Dody… ! duduk di sini aja.. sini di belakangku”, seru Mika teman sebangkuku melambaikan tangannya ke arah Dody. Dody pun yang sejak tadi terlihat kebingungan mencari tempat duduk mulai berjalan menghampiri kami.
                “Syukur deh, kirain cuma bangku depan aja yang masih kosong. Hehehe.. makasih ya Mik”, kata Dody sambil menghapus keringat di dahinya yang mengucur sejak tadi. Dan itu artinya, si anak baru akan duduk tepat di belakangku.
                 Setelah selesai menyalami teman-teman sekelas, tak lama kemudian si anak barupun meletakan tasnya di samping tas Dody, dan tersenyum pada kami berdua. Aku dan Mika.
                “Hai Adi, kenalin namaku Mika”, Mika mengulurkan tangannya ke arah Adi. Mika memang anak yang supel, berbeda denganku yang cenderung pendiam.
                “Hai Mika, salam kenal ya”, jawab Adi sambil membalas uluran tangan Mika.
                “Aku Dea, salam kenal”, aku memperkenalkan namaku singkat dan tersenyum pada Adi, tanpa mengulurkan tangan seperti Mika karena di depan kelas tadi kami sudah bersalaman. Adipun membalas senyumku. Senyum yang lebih ramah dibanding saat perkenalan di depan kelas tadi. Yah, berbeda.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...