Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Tjatatan 2: Karena semua orang memiliki hak untuk berbeda

Sore itu aku bertemu temanku, setelah beberapa kali mengatur waktu bertemu yang selalu gagal. Nampak kelegaan dari raut wajahnya, setelah “setengah beban hidup” (katanya), akhirnya tuntas. A= aku, T= temanku. A: “Apa rencanamu setelah ini?” T: “Belum tau. Tapi sepertinya aku ingin postdoc dulu, atau jadi peneliti. Bagaimana denganmu?” A: “Masih tetap sama, dosen. Ngga pengen jadi dosen?” T: “Belum tau. Mungkin nanti coba, tapi aku tidak terlalu tertarik. Aku masih haus ilmu. Aku pengen jadi peneliti saja. Teman-teman kita juga, banyak yang sekarang postdoc. Kamu ngga pengen postdoc?” A: “Aku tidak tertarik. Pengen jadi dosen saja, dan beternak di kampung halaman”   ******** Dari percakapan ini, aku berpikir: Apakah memang seperti ini standar umum lulusan tingkat pendidikan tertinggi? Menjadi dosen atau peneliti. Atau apapun itu yang berkaitan dengan label “manusia-manusia pintar”? Apakah aneh jika aku ingin beternak? Bahkan aku ingin menjadi dosen bukan karena...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....